Simulator Umrah Virtual Karya Pegiat Teknologi Asal Bandung

Pegiat teknologi asal Bandung mengembangkan simulator umrah virtual berawal dari kerinduan mendalam pada Tanah Suci dan kebutuhan kemudahan belajar manasik.

Simulator Umrah Virtual Karya Pegiat Teknologi Asal Bandung

Menjejakkan kaki ke Tanah Suci Makkah dan Madinah selalu menjadi dambaan setiap umat Islam. Perasaan rindu yang mendalam serta tantangan akses informasi ibadah menginspirasi seorang pegiat teknologi asal Bandung untuk menciptakan inovasi berupa simulator umrah virtual yang kini tengah menarik perhatian publik.

Berdasarkan laporan dari detikHikmah pada Jumat, 6 November 2026, inovasi berupa gim interaktif ini lahir dari tangan seorang software engineer bernama Erwin Herwanto. Sementara itu, laporan dari Republika pada tanggal yang sama mencatat bahwa platform digital tersebut dinamakan Syumra yang dikembangkan oleh Erwin Hermanto, alumni STMIK Bandung angkatan 2012, yang awalnya dirancang untuk membantu pelaksanaan ibadah secara mandiri.

Inspirasi di Balik Pembuatan Simulator Umrah

Menurut laporan detikHikmah, gagasan pembuatan gim simulator umrah ini bermula dari keresahan penciptanya melihat minimnya akses masyarakat terhadap informasi tata cara ibadah umrah yang kerap terbatas pada kalangan biro perjalanan. Selain faktor edukasi, terdapat pula dorongan emosional yang kuat.

"Dari pengalaman pribadi, untuk beberapa kayak pengetahuan tentang umrah itu sangat terbatas ya. Terutama tentang tata cara umrah sendiri itu kurang terekspublikasi. Jadinya, itu salah satu yang menginspirasi," ujar Erwin dalam wawancara bersama Tim detikHikmah pada Jumat (6/11/2026).

"Ada kerinduan terhadap Tanah Suci dan sulitnya untuk berulang kali umrah, jadi saya curahkan ke dalam bentuk membuat game," ungkapnya lebih lanjut.

Di sisi lain, laporan Republika menyampaikan bahwa platform Syumra pada mulanya dibuat sebagai alat bantu melacak putaran tawaf dan sa'i karena sang pengembang memilih untuk melaksanakan umrah secara mandiri tanpa menggunakan muthowif saat keberangkatan pertamanya.

Proses Pengembangan dan Fitur Aplikasi

Proses perwujudan karya teknologi ini ternyata tergolong cepat. Sebagaimana dilaporkan detikHikmah, Erwin hanya memerlukan waktu sekitar satu hingga tiga minggu mulai dari pembuatan prototipe, uji coba, hingga tahap publikasi setelah sempat mencobanya bersama anaknya.

Seiring berjalannya waktu, platform yang dikembangkan kini berkembang menjadi aplikasi dengan beragam fitur edukasi umrah dan haji, termasuk simulator berbasis tiga dimensi (3D) yang dapat diakses secara gratis sebagaimana diulas oleh Republika. Pengalaman langsung saat berada di Tanah Suci dimanfaatkan untuk memperkaya materi yang sebelumnya dikumpulkan dari berbagai video manasik di internet.

Respons Positif dan Harapan bagi Kreator Muda

Karya yang awalnya diperkirakan hanya akan dinikmati oleh orang-orang terdekat dan komunitas teknologi ini ternyata menuai sambutan hangat hingga viral di media sosial. Banyak warganet memberikan masukan positif serta meminta penambahan fitur baru agar pengalaman simulasi semakin lengkap.

Melihat antusiasme tersebut, sang kreator berpesan kepada generasi muda dan kreator lokal agar senantiasa memanfaatkan kemajuan teknologi di era kecerdasan buatan untuk menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat luas, tentu dengan tetap memperhatikan aturan-aturan yang berlaku.

Hikmah Memanfaatkan Teknologi untuk Kebaikan

Islam senantiasa mendorong umatnya untuk terus menuntut ilmu dan memberikan manfaat kepada sesama manusia. Berbagai inovasi positif, termasuk pemanfaatan teknologi digital untuk memudahkan pembelajaran ibadah seperti manasik umrah, merupakan wujud ikhtiar yang baik dalam menyebarkan kebaikan dan mengobati kerinduan terhadap Baitullah.

Semoga setiap ikhtiar kreatif anak bangsa bernilai ibadah serta mendatangkan kemudahan bagi umat Islam yang ingin mengenali tata cara ibadah ke Tanah Suci secara lebih dekat.

Sumber