Gadi Eisenkot Ditunjuk Bentuk Pemerintahan Baru Israel Menggantikan Netanyahu
Presiden Isaac Herzog menunjuk pemimpin oposisi Gadi Eisenkot untuk membentuk pemerintahan baru Israel usai pemilu, mengesampingkan petahana Benjamin Netanyahu.
Presiden Israel Isaac Herzog resmi menunjuk pemimpin blok oposisi sekaligus ketua Partai Yashar, Gadi Eisenkot, untuk membentuk pemerintahan baru Israel pada Sabtu (7/11/2026). Penunjukan ini mengesampingkan Perdana Menteri petahana Benjamin Netanyahu setelah fraksi parlemen yang mewakili 67 anggota Knesset menyarankan Herzog untuk memberikan mandat kepada Eisenkot.
Sebagaimana dikutip dari ANTARA dan CNN Indonesia, Eisenkot diberi waktu 28 hari dengan kemungkinan perpanjangan 14 hari untuk membangun koalisi mayoritas yang menguasai minimal 61 dari 120 kursi parlemen Knesset. Menurut laporan ANTARA, penyerahan mandat secara resmi dijadwalkan berlangsung pada Minggu pukul 17:00 waktu setempat (22:00 WIB) di kediaman resmi kenegaraan.
Detail Penunjukan dan Pemetaan Kursi Parlemen
Laporan CNN Indonesia dan ANTARA mencatat bahwa pemilu legislatif yang digelar pada 27 Oktober 2026 tidak menghasilkan satu pun fraksi yang meraih mayoritas 61 kursi. Dalam pemilu tersebut, blok sayap kanan Netanyahu memperoleh 53 kursi, sedangkan aliansi oposisi mengamankan 48 kursi. Sementara itu, dua partai Arab yakni Joint List dan Ra'am yang mewakili warga Palestina di Israel merebut 19 kursi sisanya.
Menurut laporan ANTARA, secara individu Partai Likud pimpinan Netanyahu meraih 27 kursi, sedangkan Partai Yashar pimpinan Eisenkot memperoleh 21 kursi. Namun dalam proses konsultasi, 67 anggota legislatif mendukung Eisenkot untuk membentuk pemerintahan, sementara 46 anggota parlemen mendukung Netanyahu. Dikutip dari ANTARA, sebanyak 7 anggota legislatif dari Partai Taurat Yudaisme Bersatu (UTJ) menolak memberikan saran karena perselisihan mengenai pengecualian kaum Yahudi ultra-Ortodoks dari wajib militer.
Tantangan Koalisi dan Posisi Netanyahu
Berdasarkan laporan CNN Indonesia yang mengutip Al Jazeera, Eisenkot kini berupaya melobi partai-partai mantan koalisi Netanyahu seperti United Torah Judaism (UTJ) dan Shas. Langkah ini diambil karena Eisenkot telah menutup kemungkinan membentuk pemerintahan bersama partai-partai Arab, yang padahal bisa memberinya total 67 kursi. Jika Eisenkot berhasil merangkul dua partai ultra-Ortodoks tersebut, ia akan memperoleh tepat 61 kursi mayoritas.
Sementara itu, menurut laporan ANTARA dan CNN Indonesia, Benjamin Netanyahu tetap menjabat sebagai perdana menteri sementara hingga pemerintahan baru resmi terbentuk. ANTARA melaporkan bahwa Netanyahu merupakan salah satu pemimpin terlama Israel yang sejak 2020 menghadapi dakwaan korupsi, serta tuntutan penahanan dari Mahkamah Pidana Internasional (ICC) sejak November 2024 atas dakwaan kejahatan perang di Jalur Gaza. Isu politik internal ini berkembang di tengah situasi kemanusiaan yang menjadi perhatian dunia, termasuk peristiwa serangan Israel baru di sekitar Gaza menewaskan 25 orang.
Hikmah Kepemimpinan dan Pergiliran Kekuasaan
Dari sudut pandang Islam, dinamika politik dan pergeseran kepemimpinan merupakan sunnatullah tentang pergiliran kekuasaan di antara manusia. Islam mengajarkan bahwa jabatan dan tampuk pemerintahan bukanlah keabadian, melainkan amanah berat yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban secara adil. Setiap pemimpin diingatkan untuk menegakkan keadilan serta menghentikan segala bentuk kezaliman terhadap sesama manusia.








