Kezaliman yang Terlupakan: Tangisan Rasulullah dan Orang-Orang yang Terhalangi dari Kebaikan
Renungkan kisah tangisan Rasulullah ﷺ saat membaca Al-Qur’an dan pelajaran dari Syekh Ibrahim al-Duwaisy. Temukan siapa yang terhalangi dari kebaikan dan bagaimana menghidupkan hati lewat tadabbur Al-Qur’an.

Kezaliman yang Terlupakan: Tangisan Rasulullah dan Orang-Orang yang Terhalangi dari Kebaikan
Syekh Ibrahim al-Duwaisy pernah berkata,
"Di antara orang yang terhalangi dari kebaikan adalah mereka yang tidak merasakan kelezatan membaca Al-Qur’an, mentadabburinya, dan menangis karena takut kepada Allah."
Kata-kata ini menggetarkan hati. Banyak orang mungkin merasa dekat dengan Al-Qur’an hanya di bulan Ramadhan, tetapi tidak mengambil waktu untuk merenungkan ayat-ayatNya dengan khusyuk dan hati yang tunduk.
Kisah Tangisan Rasulullah ﷺ
Diriwayatkan dari ‘Atha, ia berkata:
“Aku masuk sementara ‘Ubaid bin ‘Umair di hadapan Aisyah radhiyallahu ‘anha, lalu ‘Ubaid berkata: ‘Ceritakanlah hal paling menakjubkan dari Rasulullah!’ Aisyah pun menangis dan menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ suatu malam bangun dan berkata: ‘Wahai Aisyah, biarkan aku beribadah kepada Rabbku.’”
Rasulullah ﷺ shalat dengan penuh kekhusyukan hingga tempat beliau menangis menjadi basah. Hingga ketika Bilal datang mengumandangkan azan Subuh dan melihat beliau masih menangis, Bilal bertanya:
“Wahai Rasulullah, padahal dosamu telah diampuni, mengapa masih menangis?”
Beliau ﷺ menjawab:
“Tidak patutkah aku menjadi hamba yang bersyukur? Telah turun kepadaku ayat dari Surah Ali Imran yang celakalah orang yang membacanya dan tidak mentadabburinya...”
(Maksudnya QS. Ali Imran ayat 190-200).
Sumber: Shahih Ibnu Hibban no. 620, dihasankan oleh al-Albani dalam Ta’liqat al-Hisan ‘ala Shahih Ibn Hibban 2/84.
Siapa yang Terhalangi dari Kebaikan?
Syekh Ibrahim al-Duwaisy mengingatkan, banyak orang membaca Al-Qur’an tanpa meneteskan air mata, sementara mereka bisa menangis karena lagu atau kisah cinta di dunia. Ini menunjukkan hati yang keras, kering dari takut kepada Allah. Hati seperti inilah yang terhalang dari kebaikan.
Bahkan Rasulullah ﷺ bersabda:
“Al-Qur’an itu bisa menjadi hujjah yang menyelamatkanmu atau membinasakanmu.”
(HR. Muslim no. 223)
Maka tanyakan pada diri kita masing-masing:
-
Sudahkah aku menangis karena Al-Qur’an?
-
Sudahkah aku membaca dan memahami maknanya setiap hari?
-
Apakah aku lebih tersentuh oleh dunia daripada akhirat?
Hidup yang Terisi Tadabbur
Al-Qur’an adalah cahaya, petunjuk, dan penyembuh hati. Orang yang membaca dengan tadabbur akan merasakan kebahagiaan dan ketenangan luar biasa, bahkan kelapangan dada di dunia dan akhirat.
Baca Juga : Mentadabburi Al-Qur'an seperti Rasulullah: Panduan Praktis untuk Menemukan Kedamaian Hati
Saudaraku, jangan biarkan Ramadhan ini berlalu seperti sebelumnya. Jadikan ia momentum untuk menghidupkan hati, menangis karena cinta kepada Allah, dan memperdalam hubungan dengan Al-Qur’an. Karena orang-orang shaleh tidak hanya menangis saat qiyamul lail, mereka juga menikmati setiap tetes air mata karena cinta dan takut kepada Rabb-nya.