Peristiwa 30 Ramadhan: Wafatnya Imam al-Bukhary, Ulama Hadits Agung
Pada 30 Ramadhan 256 H, wafat al-Imam al-Bukhary, ulama besar penyusun kitab Shahih al-Bukhary. Simak kisah wafat dan warisannya di sini.

Peristiwa Bersejarah di Bulan Ramadhan
Pada 30 Ramadhan 256 Hijriyah, umat Islam kehilangan salah satu ulama besar dan peletak fondasi ilmu hadits, yaitu al-Imam al-Bukhary. Nama lengkap beliau adalah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin al-Mughirah. Beliau wafat di desa Khartank, dekat kota Bukhara (sekarang Uzbekistan), dalam usia 62 tahun.
Baca Juga : Peristiwa 29 Ramadhan: Pendirian Kota al-Qayrawan
Kiprah dan Warisan Ilmu
Al-Imam al-Bukhary dikenal luas sebagai penyusun kitab Shahih al-Bukhary, yang merupakan kitab paling shahih setelah Al-Qur’an. Selain itu, beliau juga menulis karya-karya monumental lainnya seperti al-Tarikh al-Kabir dan al-Adab al-Mufrad.
Ibnu Khuzaimah pernah berkata:
“Aku tidak pernah melihat seseorang di atas permukaan bumi yang lebih berilmu tentang hadits daripada Muhammad bin Isma’il al-Bukhary.”
Beliau juga pernah berkata:
“Aku diberikan petunjuk sehingga mudah menghafalkan hadits sedangkan aku masih di kuttab anak-anak ketika usia 10 tahun.”
Tentang karyanya yang monumental, beliau berkata:
“Aku menyusun kitabku ini selama 16 tahun, aku menyeleksinya dari 600.000 hadits, dan aku menjadikannya sebagai hujjah yang membelaku kelak antara diriku di hadapan Allah Ta’ala.”
Kesimpulan
Wafatnya al-Imam al-Bukhary pada 30 Ramadhan 256 H menjadi momen duka dalam sejarah keilmuan Islam. Warisan beliau dalam bidang hadits terus menerangi dunia Islam hingga hari ini.