Sakaratul Maut: Rahmat Tersembunyi dan Ujian Penuh Hikmah
Sakaratul maut bisa terasa berat bagi muslim sebagai rahmat: penyuci dosa dan sebab keringanan di akhirat. Kemudahan bagi non-muslim adalah balasan duniawi yang habis. Maka, perbanyaklah doa mohon husnul khatimah dan kemampuan mengucapkan لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ di akhir hayat, karena itu janji surga.
Tafsir Ayat: Malaikat Pencabut Nyawa
Allah Ta'ala berfirman dalam Surah An-Nazi'at:
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ وَالنَّازِعَاتِ غَرْقًا وَالنَّاشِطَاتِ نَشْطًا
"Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras, dan (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah lembut." (QS. An-Nazi'at: 1-2)
Ayat mulia ini menggambarkan dua kondisi pencabutan nyawa yang dilakukan oleh malaikat maut dan para pembantunya. Ada yang dicabut dengan keras dan ada yang dengan lembut. Ini menunjukkan bahwa pengalaman sakaratul maut setiap manusia berbeda-beda, sesuai dengan kehendak dan hikmah Allah.
Sakaratul Maut: Sebuah Rahmah dalam Berbagai Bentuk
Sakaratul maut sering kita bayangkan sebagai momen yang menakutkan. Namun, dalam perspektif Islam, ia adalah bagian dari rahmat Allah. Rahmat tidak selalu identik dengan kesenangan dan kemudahan. Kadang, ia datang dalam bentuk ujian yang terasa berat, namun mengandung kebaikan yang besar di baliknya.
Perbedaan antara Muslim dan Non-Muslim
Pertanyaan yang sering muncul: Mengapa banyak non-Muslim yang tampaknya lebih tenang dan mudah saat menghadapi kematian, sementara justru seorang Muslim mungkin merintih kesakitan?
Penjelasannya mengandung hikmah yang dalam:
-
Bagi Non-Muslim:
Allah Maha Adil. Kebaikan apa pun yang mereka lakukan di dunia—seperti menolong sesama, berbakti kepada orang tua, atau berbuat jujur—akan dibalas sepenuhnya di dunia. Mereka mungkin mendapatkan kehidupan yang nyaman, kesehatan yang baik, atau kemudahan saat menjelang ajal sebagai bentuk penyempurnaan balasan duniawi. Namun, karena mereka meninggal tanpa iman, di akhirat tidak ada lagi bagian untuk mereka kecuali siksa neraka yang kekal. Allah berfirman:مَن كَفَرَ فَعَلَيْهِ كُفْرُهُ
"Barangsiapa kafir maka dia sendirilah yang menanggung (akibat) kekafirannya itu." (QS. Ar-Rum: 44) -
Bagi Muslim:
Rasa sakit dan kesulitan saat sakaratul maut justru bisa menjadi rahmat dan karunia. Ia berfungsi sebagai:-
Penggugur Dosa: Setiap rasa sakit, setiap tetes keringat, dan setiap kesulitan yang dialami seorang mukmin saat sakaratul maut dapat menjadi kaffarah (penebus) dosa-dosanya, selama dosa besar (seperti syirik) telah ia tinggalkan.
-
Peringatan dan Penyucian: Ia menjadi momen terakhir untuk bertaubat dan mengingat Allah, meningkatkan ketakwaan di detik-detik terakhir.
-
Penyebab Keringanan di Akhirat: Penderitaan di dunia ini dapat mengurangi atau bahkan menghapus hisab dan siksa di akhirat, sehingga ia memasuki surga dalam keadaan lebih bersih. Nabi ﷺ bersabda tentang orang yang sakit:
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
"Tidaklah seorang Muslim tertimpa suatu penyakit dan keletihan, kekhawatiran dan kesedihan, dan tidak juga gangguan dan kesusahan bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus dosa-dosanya dengan hal itu." (HR. Bukhari & Muslim). -
Persiapan Menghadapi Akhir yang Baik (Khusnul Khatimah)
Karena kita tidak tahu bagaimana akhir hidup kita, maka kewajiban kita adalah berusaha dan berdoa memohon kepada Allah agar diberi penutup yang baik.
Perbanyaklah Doa Ini:
اللَّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ عُمْرِي آخِرَهُ، وَخَيْرَ عَمَلِي خَوَاتِمَهُ، وَخَيْرَ أَيَّامِي يَوْمَ أَلْقَاكَ فِيهِ
"Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik umurku adalah akhirnya, sebaik-baik amalku adalah penutupnya, dan sebaik-baik hariku adalah hari ketika aku bertemu dengan-Mu."
Doa yang paling utama adalah memohon agar bisa mengucapkan kalimat tauhid di akhir hayat. Ini adalah kunci surga.
Keutamaan Mengakhiri Hidup dengan Kalimat Tauhid
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ
"Barangsiapa yang akhir ucapannya (sebelum meninggal) adalah 'Laa ilaha illallah', maka ia akan masuk surga." (HR. Abu Dawud, disahihkan Al-Albani).
Inilah mengapa para ulama sangat menganjurkan untuk mentarbiyah (mendidik) lisan kita dengan selalu berzikir, khususnya kalimat tauhid. Agar saat ajal tiba, lidah yang terbiasa mengucapkan kalimat mulia itu akan dengan mudah mengatakannya kembali.
Kesimpulan
Sakaratul maut adalah pintu yang harus dilalui setiap makhluk. Bagi seorang mukmin, setiap detiknya—meski terasa berat—adalah bentuk cinta dan kasih sayang Allah untuk menyucikannya. Jangan iri dengan kemudahan yang dilihat pada orang lain, karena balasan akhiratlah yang hakiki. Mari kita persiapkan diri dengan:
-
Memperbanyak amal saleh.
-
Terus memperbaiki kualitas tauhid.
-
Membiasakan lisan dengan zikir, terutama kalimat لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ.
-
Tidak henti-hentinya memohon kepada Allah agar diberi حُسْنَ الْخَاتِمَةِ (husnul khatimah).
Semoga Allah mematikan kita dalam keadaan husnul khatimah, dan menghadiahkan kita kalimat tauhid sebagai mahkota penutup kehidupan dunia kita. آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِين.







